Ada seorang gadis di Bekasi, yang nyaris mati karena bunuh diri. Rupanya ia minta dinikahkan dengan pujaan hatinya dengan pesta meriah.Karena ayahnya tak mau, dia pun nekat bunuh diri dengan minum Baygon.Untung jiwanya terselamatkan. Seandainya saja tak terselamatkan, naudzubillah min dzalik! Allah mengharamkan surga untuk orang yang mati bunuh diri.

Si gadis tadi rupanya telah menjadikan kemewahan pernikahannya sebagai sebuah prinsip hidup yang tak bisa dilanggar. Sayang, gadis malang itu mungkin belum menghayati cara Rasulullah menikahkan putrinya.

Bagi Rasulullah, membuat pesta besar untuk pernikahan putrinya bukanlah hal sulit. Ibarat pesulap tinggal menengadah ke atas berdo'a meminta 100 ribu malaikat dan bidadari lengkap dengan pernak-pernik hadiah pernikahan dari surga pasti terlaksana seketika.Tapi, sebagai manusia agung yang suci, "kemegahan" pesta pernikahan putrinya, bukan ditunjukkan oleh hal-hal yang bersifat duniawi.

Fatimah dipernikahannya hanya mengenakan gaun bersulam dengan 12 tambalan. Tak ada perhiasan, apalagi pernik-pernik mahal satu2nya hadiah pernikahan yang ia dapat dari ayahnya berupa sebuah gilingan gandum, kendi dan sebuah piring. Setelah menikah, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca Alquran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya.

Bagaimana gadis sekarang? Mereka, memang tak lagi menggiling gandum,tapi menekan tuts-tuts komputer. Tapi bagaimana lidah, hati, dan matanya? masihkah melafalkan ayat2 suci alqur'an.

Maka tak heran bila dari keturunan fatimah terlahir para generasi cerdas dan shaleh, ulama-ulama ulung yang menjadi guru dan rujukan seluruh imam, termasuk Imam Maliki,Hanafi, Syafi’i, dan Hambali.

10 komentar:

srex aswinto mengatakan...

Sungguh ironis artikel diatas, tp kita memang harus melihatnya kasus per kasus...tdk bs 'gebyah uyah' begitu aja... Lepas dari alasan 'temtamen suicide' si gadis itu, sy merasa faktor tingkat intelektual, budaya setempat, dan kemiskinan materi dan rohani ikut punya andil didalam kasus ini.

Coba dia kenalan sama syeh Puji di Bedono...siapa tau dia minat ya...?

mama Hilda mengatakan...

tragis sekali ya, memang tuntutan materialistik semakin mengikis kepribadian seseorang, tapi saya sependapat dgn mas srex aswinto, bahwa semua itu pasti disebabkan krn multi faktor. nice post..

elly.s mengatakan...

iya..perkawinan sekarang penuh dengan pesta yang mubazir dan bermegah2..
setelah itu hidup dililit hutang bertahun2....
kasian ...

NdesO mengatakan...

Wah wah wah, untuk apa pesta pernikahan meriah kalo memang tak punya? Lebih baik tidak aneh2 daripada nantinya hidup menderita...

hamka mengatakan...

ini mas aku udah visit :D

nita mengatakan...

jaman sekarang tentu masih banyak gadis2 baik seperti fatimah

oya, bgmana dg laki2 baik? apa juga masih banyak?

dee mengatakan...

@ nita:
Laki2 yg baik msh banyak mba, tp yg ga baik mungkin lbh banyak laghee ya.. ^_^

sederhana is the best
mending uang buat biaya nikahan gede2an buat biaya idup aja, beli panci, baskom, sprei, gelas cs lah

nindya mengatakan...

Ide Dee boleh juga tuh.. buat beli panci, baskom dll..

Buat the owner this blog, ceritanya bagus.. and thanks udh mengunjungi blogku

Blog Cantik mengatakan...

Ya..belajar dari Fatimah tentang makna kesederhanaan!

Nitnot_says mengatakan...

Hallo ibu shanty (bener ga namanya, he3x..??).. Design blogny bgs bgt..!! (kykny bu shanty arsitek blog jg yaw..!!).. Ya, sbg perempuan kt hrs byk (dan selalu) belajar akan keikhlasan Khadijah, kecerdasan Aisyah, dan kesederhanaan Fatimah.. Tanpa wedding party yg meriah, mereka berhasil menjadi istri dan ibu dari lelaki terpilih, dan mampu menjaga satu hati hingga nafas berakhir.. Teladan hdp yg menjadi inspirasi byk perempuan.. Jd atas dasar apa, bila kita ingin mengalahkan mereka..??

Posting Komentar

U comment I Follow, thanks

 
[ Back To TOP ]